Sabtu, 18 Februari 2017

PENJAHIT SEPATU






Aku masih duduk bak sebuah batu, terdiam sibuk menyumpel dua lubang hidung dengan sapu tangan yang kebetulan bertengger di saku. Iya, tak beda jauh layaknya pengunjung rumah sakit yang menutup lubang hidung alasan antisipasi ketularan virus. Bahkan tiga puluh menit sejak aku menjadi lumut di tempat menjijikan ini. Ditengah galau yang menghantui, aku yakin semua orang pasti merasa ingin mengakhiri. Cukup untuk pertama dan terakhir aku disini keluh rengek batin. Memang sial nasib, mendatangi tempat penjahitan sepatu dan payung ditawan titah Bos. Hanya saja kondisi disekeliling benar-benar membuat ingin berontak. Hujan deras bagi air terjun yang mengerang dibalik kondisi yang semakin buruk rupa menodai mata, pemandangan sungai kotor tak ramah, bau sampah yang menari-nari dibawa arus air. Betapa tidak lingkungan ini mencekik tengggorkanku membuatku ingin muntah. Tak kuat ingin rasa segera mengakhiri, berlari menghirup segarnya udara di luar. Namun karena kewajiban menggantung, suka dan duka terpaksa aku terjang.  Sesekali menengok jam tangan pinjaman berharap setiap detik jarum melaju lebih cepat.
            "Dek, kira-kira masih berapa menit  lagi sepatunya selesai dijahit?" Tanyaku  pada seorang anak kecil penjahit sepatu.
            "Emmm... mungkin 1  jam lagi baru selesai Mbak,"  tukasnya dengan ekspresi hampa tangannya tetap asyik menusukkan jarum di sepatu pesanan orang.
            “Lho katanya tadi 30 menit sudah jadi. Aku sudah nunggu 30 menit, berarti sudah jadi dong,” tanyaku dengan nada meninggi tidak percaya.
            “Iya, sebenarnya biasanya segitu. Tapi Mbak tau sendiri sekarang cuacanya telah berubah. Coba lihat ke atas, matahari tidak bersahabat, ” seru penjahit menggampangkan.
Aku menatap ke langit mengernyit dahi, menatap awan gelap kelabu hujan gerimis bergelimpang dari langit aku rasakan menghujam harapanku.
“Sabar Mbak, sepatu yang Mbak bawa masih di lem. Kalau sudah kering baru bisa dijahit,” ujarnya  kembali menerangkan.
            "Haduh kok gak bilang dari tadi sih! Aku udah gak betah disini. Apa gak bisa lebih cepat?" Aku mengadu sembari bangkit dari posisi dudukku.
......
            “Ya Tuhan, masalahnya itu sepatu majikanku. Kalau sepatunya udah selesai dijahit baru aku diijinkan pulang.  Kalau tahu gini udah dari tadi mending keluar, main entah ke taman, pasar, atau tempat asyik lainnya  pas cuaca masih cerah. Sudah sekarang hujan makin deras, pokoknya 1 jam lagi harus udah selesai lho Dek!” Aku terus  mengomel di rel emosi yang asapanya terus berkibar-kibar.

Ucapanku sama sekali tidak digubris. Apa anak ini gak pernah  di ajari tata krama oleh orang tuanya? Udah bikin sakit hati sekarang diam tak merespon. Aku merasa mengobrol  dengan makhluk lain. Huh.. tingkahnya nyebelin banget aku terus menggerutu. Terpaksa aku kembali duduk menyerah kalah, terjebak hujan deras berdamping rangkain kilat halilintar. Ouh rasanya raga ini menyusut tak berdaya.

Sebersit anugrah terhempas hujan tampak memahami, semakin jinak menjadi iringan gerimis  hingga mereda. Krucuk...krucuk... astaga  kini perutku yang berbunyi meniru aliran air.
            “Mbak gak lapar?  Silahkan ini ada kue kukus,” sembari menyodorkan kotak kecil berwarna hijau tosca.
 Aku tersentak, dalam fikirku penuh ragu. Apa ia bisa membaca fikiranku?
            “Mbak gak usah malu, silahkan ambil,” terus saja ia merayu tak menyerah.
            “Emm, makasih,” tanganku melambai, sebab gengsi aku memilih menolak aku yakin ia pura-pura baik.

****

             “Ini mbak sepatunya sudah selesai.”
            “Oh iya berapa Dek? Untung ya tepat waktu,” ujarku bonus menyindir senyum tipis.
             “Cukup 5.000 aja mbak,” jawabnya santai tak peduli seraya mengusap peluh di dahi.

Wusshh... aku beranjak pulang dengan nafas lega. Tik..tik... beberapa langkah aku berjalan tetesan air merayap membasahi pipi. Aku percepat langkah berharap air dari angkasa tidak berlarut  ganas. Persis saat ada suara langkah kaki berlari dan tabir membatasiku dengan hujan.
            “Mbak,” suara mengalir lewati gendang telingaku.
Aku menoleh kebelakang.  Mataku tak menjangkau siapapun kecuali payung yang melayang. Aku terbelalak dikala menatap ke bawah, sigap bediri seorang berambut ikal setinggi pinggangku.
            “Mbak, hujannya semakin deras, pakai payung ini saja ya,” ia berseru kencang mengalahkan sorak sorai hujan.
            “Oh iya, terima kasih. Tapi untuk apa? Sepatu bos saya sudah di dalam tas plastik, jadi gak akan basah karena hujan kok.”
            “Iya gak apa-apa. Dari pada Mbaknya nanti sampai rumah basah kuyup. Rumah saya dekat sini kok mbak. ”
            “Ouh baiklah kalau begitu, terimakasih Dek. Besok saya kembalikan lagi ya,” mulutku dibungkam kelu, akhirnya menerima dengan hati haru.

Aku berpaling kembali mengembalikan payung. Namun tak aku jumpai rambut ikal anak penjahit sepatu dan payung. Hatiku panas dirundung resah. Aku mendatangi pria bertopi hitam sibuk mengelap gerobaknya bertulis “Jenang Sehat”.
            “Pak, anak kecil yang menjahitkan sepatu dan payung disini kemana ya?”
            “Ouh si Ahmad, dia tadi pulang buru-buru. Katanya sih mau nunggguin ibunya yang opname di rumah sakit.”
            “Apa di rumah sakit? Rumah sakit mana ya Pak? Maaf saya mau mengembalikan payungnya.”
            “Di Rumah Sakit Graha Saudara dekat alun-alun itu lho Mbak, kasian banget kata Ahmad ibunya sedang kritis,” ujar beliau terbuka.
            “Ouh, memang Ibunya sakit apa Pak?” Tanyaku penasaran.
            “Kata Ahmad Ibunya kena kanker paru-paru, sebenarnya dokter udah nganjurin operasi. Tapi yah karena uang sulit dicari,  anaknya bingung cari dana.”
            “Emmmm... Terima kasih atas infonya Pak,” aku bergegas pergi dengan batin  mengganjal merajut mata berbuih embun.

Rumah mewah telah menantiku tanpa fikir panjang segera kudatangi markas. Aku mengiris aneka bumbu dengan hati pilu. Terbayang almarhum Kak Mirda, saudara kembarku yang terindikasi kanker paru-paru lantaran over dosis terkontaminasi asap rokok di kantor. Nasibku tak ubahnya tercermin kepada Ahmad. Aku berikrar sore nanti hendak menjenguk Ibunya.
            “Tumben Mir, jam segini dapur udah ribet. Mau kemana hayo?  Biasanya kan  jam segini masih molor,” Kata Nyonya Bos nyelonong masuk.
            “Emmm iya Nya, kebetulan nanti saya mau ke rumah sakit jenguk ibu temen saya,” jawabku menunduk fokus mencacah daging.
            “Matamu agak lebam, kamu menangis? Emang Ibunya sakit apa?” Tanyanya sambil asyik menyicipi kentang goreng yang baru matang.
            “Emmm... iya, sakit kanker paru-paru Nya, katanya disarankan dokter untuk operasi. Cuma kasian banget, teman saya tidak punya cukup uang,” ujarku masih terisak.
            “Operasi itu emang mahal bisa berjuta juta. Yah mangkannya kita harus menerapkan  pola hidup sehat. Makan-makanan yang sehat serta bergizi. Bukan begitu kan Mirah?” Ungkap Nyonya seraya mengambil apel merah fuji yang tergelatak di piring.
            “Iya, betul sekali. Oh ya Nya, berubung tabungan saya hanya Rp 100.000,00. Apa Nyonya tak ingin ikut  membantu?” Ujarku berharap Nyonya moodnya sedang baik dan  tergerak hatinya berbagi meski secuil harta.
            “Hah... uhuk...uhuk,” spontan Nyonya tersedak apel, capat-cepat aku ambilkan segelas air putih.
            “Em...gimana ya? Uang saya yang cash tidak ada. Uang di ATM ada sih tapi saya gunakan besok reuni ke luar kota. Andai kamu bilang jauh hari Mir, masih bisa aku bantu,” ujar Nyonya sok care.
            “Emmm... baiklah. Maaf Nya, kalau Bos pulang kerja kira-kira kapan?” Tanyaku menggali jalan lain.
            “Tadi berangkat kerja sih katanya  pulang  baru besok. Nanti mau rapat mbahas proyek besar. Yah semoga aja lancar ya nanti,” hobi pamer Nyonya mulai kambuh.
            “ Iya Nya, Amin...Amin,” Aku iyakan aja deh biar puas tak guna aku  mencerca.

***
Dibalik saksi gelincir mentari. Sekali lagi aku meyakinkan amplop aman di saku. Aku maju menghampiri gerbang rumah sakit mataku mengintai setiap langkah yang lalu lalang. Wajahku semakin mekar tampak Ahmad dari pintu. Aku segera berlari menghampiri.
            “Dek,apa kabar?  Ini aku kembaikan payungnya,” ujarku  menghampiri seraya jongkok di lantai menyamakan tinggi badan kami  menjulurkan payungnya.
            “Ouh iya baik Mbak,  terima kasih,” tampangnya masih seperti dulu awal bertemu masam, datar, dan kaku.
            “Lho mau kemana? Aku mau jenguk Ibunya Adik,” aku menghentikan langkah kakinya yang terburu-buru pergi.
            “Mbaknya memang ada perlu apa dengan Ibu saya?” Langkahnya terhenti, malah  balik bertanya.
            “Ya, aku kan pingin jenguk. Masak gak boleh?” Ujarku membela diri.
            “Ya boleh aja sih, tapi ibuku masih tidur,” jawabnya dekil.
            “Emm, ya udah gak apa-apa kalau gitu tolong terima ini ya Dek,” seruku memberikan amplop putih agak lusuh.
***

Inilah momen yang aku tunggu. Untung saja bujuk rayuku mempan membungkus niat Nyonya membeli payung baru. Bermodal payung rusak yang tak lagi selaras antara juantaian benang dan sisi kawat. Dengan riang semangat aku kembali menghampiri stand jasa penjahitan sepatu dan payung. Surya pagi seperti biasa masih kokoh mengawasi aktivitas kami, tapi tak aku jumpai bocah penjahit sepatu dan payung. Setelah aku mendapat kabar dari  penjual jenang. Tiap bait katanya perih tembus mematahkan mimpiku. Betapa sesak dadaku mendengar Ahmad telah lama tidak bekerja. Tutur penjual jenang terakhir kali dijumpainya pekan lalu dikala sore menjelma di panti asuhan. Aku kian mengungkit bingkai nostalgia 5 tahun silam, mengorek kembali tiimbunan pedih kehilangan orang yang  disayang .

Energi besar menopang langkahku. Entah apa motif yang mengukir ingin sekali aku berjumpa Ahmad walau semenit saja. Berjarak beberapa langkah dekat panti jelas terdengar kegaduhan anak-anak. Sesampainya aku menatap girang  gerumbulan anak kecil bermain riang bersama di halaman. Namun hatiku menciut berulang kali mencermati sama sekali tak menjumpai anak kecil berambut ikal. 
            “Mbak,” tiba-tiba  aku merasakan dekapan seseorang  dari belakang.
            “Yey... Asyik Mbak main kesini,” ia melepaskan pelukannya dan berjalan gesit di hadapanku dengan senyum mengambang bahkan terlihat jajaran giginya.
            “Ouh iya sama-sama Dek, aku turut berbela sungkawa atas yang ada. Moga Allah memberi kekuatan dan ganjaran yang melimpah ya,” ujarku sembari menatapnya haru.
            “Hah, Mbak ngomong apa sih? Aku gak ngerti. Mbak mau ketemu Ibu ya? Ibu baru saja pergi mengantar roti pesanan orang,” serunya dengan wajah keheranan.
          “Hah yang bener? Ouh enggak, aku cuma pingin ketemu Adik buat jahitin payung,” jawabku amat terkejut segera mengalihkan pembicaraan.
            “Gak mau ah mbak, kata Ibu aku harus fokus sekolah gak boleh kerja. Ouh ya Mbak terimakasih banyak ya, karena bantuan uang dari mbak kemarin, Ibu saya sekarang sudah sembuh usai operasi,” ujarnya menjelaskan membuatku sedikit tercengang atas perubahannya mendadak 180 derajat.
            “Emm... Alhamdulillah kalau gitu. Sebenernya itu bukan dari mbak aja Dek. Ya seperti adiknya tau aku sebagai pembantu dengan teman-teman, eh maksutnya dengan para pembantu lain. Mereka juga turut simpati akhirnya kami mengumpulkan uang bersama,” aku berterus terang.
            “Ouh gitu aku gak nyangka masih ada orang yang peduli dengan kami,” perkataan Ahmad merambat menggetarkan kalbuku.
            “Iya, aku sadar Dek. Almarhum saudaraku perempuanku memberiku mutiara kenangan bahwa kebahagiaan datang dengan menjalin persaudaraan. Saling berbagi dan membantu satu sama lain. Persaudaraan dengan siapa saja, tak sebatas sanak keluarga atau sedarah turunan.”
            “Iya betul banget. Oh ya Mbak, sebagai ungkapan terima kasih tolong terima kue ceria ini” ujarnya sembari mengeluarkan sebungkus kue kukus kebiasaan baiknya masih saja awet seperti dulu.
            “Nyam.... nyam iya enak banget. Pasti Ibumu ya yang buat? Eh ngomong-ngomong lagi ngapain Dek disini?” Tanyaku menikmati roti kukus keju  yang masih hangat.
            “Hehehe Mbak tau aja. Yah.. seperti biasa setiap jumat sore Ibu memintaku membagi kue-kue ini ke panti,” jawabnya dengan polos.
            “Wuw asyik  berbagi,  jempol deh buat Ahmad?” ujarku takjub.
            “Lho Mbak tau namaku? Dari siapa?” tanyanya baru menyadari.
            “Ya tau dong, emmm rahasia,” responku senyum kecut.
            “.........”
           
 (LFA)


GEMURUH MASSA




Jarum jam masih betah menggelinding. Mengitari kehampaan relung hati Ibu dan Bapak. Untung air mata Ibu tak lagi mencair. Pasalnya Ibu telah bercermin pada takdir. Mengemis air mata tak akan mampu melunasi keadaan. Sekelumit kesabaran pada sang penguasa waktu, adalah senjata ampuh tak akan mengecewakan.. Begitulah rakitan motivasi Bapak pada Ibu dikala fajar menjelma. Dengan keuletan tingkat tinggi Ibu menempatkan ikan bakar serta rangkain sayur lengkap dengan nasi di sebuah kotak makan. Yah, Ibu masih ingat betul makanan favorit anak semata wayangnya  dikondisi genting seperti ini. Mungkin kenangan manis yang sedikit terkabur sebagaimana terakhir membungkus bekal 10 tahun silam setidaknya menjadi pelipur lara. Sementara Bapak sibuk memasukkan beberapa perlengkapan yang mungkin benar-benar dibutuhkan selama nanti di luar kota, sambil telinga Bapak merapat mengikuti siaran TV. Tiba-tiba telepon berdering mengindahkan perhatian Bapak cepat sigap mengangkat gagang telepon.  Tampak raut muka Bapak melukis cemas bertumpuk gundah.
            “Iya iya. Emh… Mas tenang saja saya segera kesana. Tolong tenangkan keadaaan restauran semampumu dulu ya!” Ujar Bapak ringkih memberi instruksi.
            Ibu yang dari tadi memata-matai ikut menelan ludah merasakan suatu ganjalan.
            “Ibu sudah siap? Sebelum kita ke pengadilan. Kita mampir dulu ya Bu di restorannya Rizki, ada kerusuhan disana kata Mas kasir,” Bapak mengabarkan dengan wajah pucat.
Ibu tak merespon banyak, hanya mengangguk bisu entah terlanjur paham atau terlebih dulu membaca fikiran Bapak, atau Ibu sedang memendam sesuatu namun tak ingin memperkeruh keadaan. Ibu menenteng sebuah tas pada lengan kanan sambil membuntuti laju Bapak yang tengah mengenggandeng sebuah koper hitam dengan garis zig-zag menuju mobil dengan tempo semakin cepat.

Tiba di muka restauran terkuak pemandangan tak seperti biasa. Halaman restoran yang keindahannya tak tertandingi menjadi tiada arti berkat aneka ornamen, taman, dan tempat parkir telah rata dipenuhi manusia-manusia yang tak lagi ramah. Bapak memutar pikiran mencari tempat parkir yang tersisa. Bapak menurunkan jendela berharap angin menyapa memberi kesegaran penghuni mobil. Nyatanya keadaan dijungkir balik, semakin terdengar keributan massa, erat mencekik ulu hati Bapak dan Ibu. Pekik suara massa melampiaskan makian dan hinaan atas nama anak jejakanya.       
“Ibu disini saja ya, biar Bapak yang turun menghadapi massa,” ujar Bapak menatap Ibu lekat, yang duduk persis disamping kanan setir.
            “Iya Pak, yang sabar ya Pak. Seperti yang Bapak bilang tadi “Innallah ha ma as sobirin” (sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar). Ibu disini akan selalu doakan kebaikan keluarga kita,” seru Ibu menarik ucapan Bapak dikala pagi.
            “Iya, terima kasih Bu. Bismillah,” Bapak menjawab mantap sembari membuka dahan pintu mobil.
Bapak keluar mobil dengan batin masih terombang-ambing. Betapa tidak sang jagoan kebanggaan Ibu dan Bapak dikurung jalan nestapa. Begitulah siaran TV menjejakan mimpi seram. Ketika mendongakkan kepala ke depan tak terhitung jumlah massa yang berunjuk rasa. Padahal Bapak sedang tak ingin diselimut masalah baru. Tapi apa daya kenyataan menunjukkan mereka memang ada. Menghadapi massa yang dahaga, lagi pula sebenarnya apa tuntutan mereka? Bayang-bayang itu masih menggumpal dalam fikiran Bapak. Jalan menuju pintu masuk restoran tak ada harapan ditembus, gerombolan orang lengket berdempet menghalangi. Terpaksa Bapak berjalan mundur menapaki jalan pintas masuk ke dalam restoran lewat pintu belakang. Nurani Bapak disulap jernih, difilter ucapan Ibu layaknya alarm.  Kaki Bapak yang keras menapaki licin hijau rumput seolah mengajarkan arti ketegaran, membuat licin gerigi-gerigi di hati Bapak.

***
“Tuan apa yang mesti kita lakukan?”  Tanya sang kasir restoran tergopoh-gopoh menghampiri Bapak dikala pandangan pertama.
“Sebentar-sebentar, coba ceritakan bagaimana awal mula kejadian ini Mas?” Bapak menanggapi dengan tanda tanya.
“Iya, jadi begini Tuan. Awalnya ada orang yang pesan makanan. Namun setelah makan ia bersi kukuh tak mau membayar. Bahkan ia mengarang  alasan disini restoran telah bercampur harta rakyat. Jadi ia minta keadilan dalam arti ingin makan gratis,” tutur kasir panik dengan nafas masih tersengal-sengal.
“Emh lalu bagaimana respon Mas?” Bapak mendengarkan kasir dengan seksama.
“Ya tentu tidak saya biarkan. Dari dulu setelah makan disini musti bayar dulu to Pak? Akhirnya karena orang ini masih ngotot. Ia dengan PD melangkah keluar restoran seenaknya. Berubung saya tidak mau diam saja. Saya segera hubungi satpam mengabarkan hal ini, alhasil sepeda montrnya kami sita,” kasir berkisah dengan antusias.
“Astagfirullah terus bagaimana?” Tanya Tuan tertegun penasaran mengorek kejadian.
“Iya, selang waktu beberapa jam. Orang ini datang lagi Pak, malah jadi provokator membawa banyak pasukan untuk berdemo. Para pelanggan yang sedang menikmati makanan menjadi bingung dan segera berhamburan keluar restoran. Saya pun bergidik ketakutan oleh karenanya segera kami kembalikan motornya. Namun ia dan massa tetap tak beranjak, semakin menjadi-jadi terus mengaduh dan menjelek-jelekan retoran ini,” jawab kasir terus terang.
“Hemmm… Jadi begitu. Baik, saya akan bertemu mereka, semoga masalah ini segera tuntas,” Bapak mencoba menggali jalan keluar.

****
Bapak tepat berdiri dekat pintu restoran menghadirkan raga di hadapan masyarakat. Jelas di pelupuk mata  berbagai lapis masyarakat berkerumun. Tua hingga muda, laki-laki dan perempuan. Mampu dibaca kepala-kepala mereka berkumpul membungkus satu misi demi menumpahkan keluh kesah oleh karenanya tak heran sering kali terbang suara-suara menghujam perih di telinga. Kedua bola mata mereka ikut bicara meluapkan amarah besar saat menatap Bapak. Kegeraman massa ikut melunturkan mental Bapak. Namun, karena Bapak tak ingin dijejali masalah demi masalah. Bapak berupaya menyudahi segera sebelum ulah massa semakin bringas bahkan merusak prasarana sekitarnya. Dengan jantung naik turun Bapak memberanikan diri berucap, berkawan tangan dingin memegang toa yang telah disiapkan kasir.
“Hadirin sekalian dengan ini kami segenap jajaran pengurus restoran mengucapkan beribu maaf atas ketidak nyamanan dalam pelayanan. Namun atas nama retoran Rizky yaitu anak kandung saya. Tolong jangan sangkut pautkan musibah yang ada dengan restoran ini,” seru Bapak dari palung hati.
Seorang berkulit hitam dengan baju kusut biru yang berdiri di baris terdepan segera menimpali, “Kami mengharap keadilan Tuan! Telah jelas kekacauan bangsa ini. Karena ulah tikus busuk yang berkeliaran di negara tercinta ini, tega nian memungut darah rakyat. Saatnya kita bangkit, meminta keadilan dan bertidak tegas. Sebagaimana TV  memberitakan kasus korupsi terdakwa pemilik restoran ini. Berarti tidak diragukan usahanya telah tercampur harta haram bukankah begitu hadirin?”
“Iya, setuju,” respon masyarakat yang melecit serempak seraya mengangkat tangan bersamaan. 
            “Baiklah hadirin, Sebenarnya apa sekarang yang kalian inginkan?” Keluh Bapak.
            “Iya Tuan, kami meminta hak kami.  Bila kalian masih peduli berilah kami makan gratis. Ada diantara kami mulai pagi berkokok hingga siang membakar kulit belum menelan sesuap nasi. Saatnya Anda memenebus dosa-dosa memberi sepenuhnya hak kami. Bagaimana saudara-saudara?”  Tak bosannya sang provokator  membujuk hasrat massa.
            “Iya, setuju,” hadirin kembali mengiyakan.

****
Bak semilir angin akhirnya aroma makanan hangat dan sedap menyebar rata di telapak tangan massa. Bahkan lebih dari itu para gelandangan luar ikut bergerombol menikmati makanan gratis. Memang pemandangan ini jarang-jarang beredar. Tanpa sadar Bapak terhipnotis suasana. Memang menakjubkan menyaksikan mereka makan dengan wajah girang dan super cepat. Betapa tidak, dengan susah payah mereka berebut lawan banyak orang. Meski telah dikumandangkan instruksi tertib semua akan mendapat bagian. Yah, tetap mereka tumpul telinga dan atusias ingin mendapat bungkusan makanan paling awal. Bapak mengelus dada, apa mereka jarang makan lezat atau jarang makan kenyang? Yah untunglah tak ada anak kecil disini bisa jadi keributan semakin mencekam.
            “Saudaraku apa kalian sudah kenyang?” Seru provokator kembali beraksi sembari mengunyah suapan terakhir.
Samar-samar raung massa berceceran, dari jawaban sudah, cukup, belum, atau masih lapar.
            “Saudaraku sekalian, sebagai perwakilan jutaan rakyat di Indonesia. Sebenarnya perlakuan ini belum setimpal. Tentu kita punya keluarga di rumah yang belum karuan makan. Bagaimana kalau kita meminta sebungkus lagi untuk keluarga kita? Jangan takut saudara, ini adalah hak kita!” Sang provokator kembali menuntut.
            “Iya, setuju,” lagi-lagi jawaban mereka bersatu, menuruti atau hanya sekedar ikut-ikut.

****
            “Hak gundulmu apa?  Udah miskin serakah pula,” seru kasir mendongkol sambil menjilat nasi yang menempel di sela-sela jari tangannya.     
            “Hus…Sudah-sudah biarin aja Mas, ucapan mereka juga gak 100% salah,” seru Ibu yang kebetulan lewat baru saja keluar mobil.
            “Eh ada Nyonya ternyata, tapi maaf Nya bukannya mereka main hakim sendiri ya?” Tanya kasir senyum kecut.
            “Hemmm….Iya memang. Mas ingat pelangi? Hujan yang membekukan tulang dan panas yang membakar dada, diantaranya akan muncul pelangi yang berhias indah bagi siapa yang mampu melihatnya.
            “Gimana maksutnya Nya, maaf saya kurang paham?” Tanya kasir memohon penjelasan.
            “Humm… Iya terkadang kita hanyut menyalahkan keadaan. Padahal ada misteri dibalik semuanya. Ujian yang melanda adalah skenario Tuhan untuk menyapa hati kita. Barangkali peristiwa ini untuk mengetuk pintu hati kami agar semakin terbuka dan berbagi,” Ibu menghela nafas kemudian menerangkan sambil membantu pegawai-pegawai membungkus makanan.
            “Emm… Iya Nya saya paham,” seru kasir mengangguk sepakat.
           
Pada kedua kalinya bungkusan makanan kembali melayang. Hanya saja para peserta berlaku lebih  jinak, tenang, dan tertib.Tak habis fikir Ibu merenung, apa karena kenyang mereka berlaku lebih halus? Setelah semua bungkusan makanan dibagi menyeluruh. Kawanan demo bernyanyi riang puas, tanpa disuruh mereka beranjak pulang meninggalkan restoran.
            “Uh… Akhirnya mereka bubar juga. Baiklah Mas, restorannya ditutup saja. Aku tau kalian telah lelah bekerja seharian,” seru Bapak menatap jam dinding sambil menyeka peluh.
            “Lho bener Tuan? Tapi masakannya masih sisa banyak bagaimana?” Sang kasir menyahut menumpahkan wajah bingung.
            “Iya gak apa-apa. Mas makan aja sama temen-temen yang lain, atau nanti bisa dibawa pulang,” seru Bapak sambil mengelus pundak kasir.
            “Yang bener Pak? Eh maksutnya Tuan? Baik terima kasih banyak lho Tuan,” nampak pelangi menghias wajah sang kasir.

Kring….kring… nyaring HP Ibu berbunyi, tanpa fikir panjang segera Ibu mengoneksi tombol. Nampak Ibu disambar takjub berlarut iringan wajah mekar. Usai telepon putus, Ibu menghadap Bapak.    
”Pak, Alhamdulillah hakim memutuskan anak kita bebas,” seru Ibu mata berbinar-binar.
 “Berarti Rizky gak salah ya Bu? Alhamdulillah Ya Allah.”
Segera Ibu dan Bapak sujud di lantai, para pegawai merekam pemandangan dengan hati luluh. (LFA)
 

Blogger news

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate by Google ( UBLO 7 )

Blogroll

About

Flag Counter