Sabtu, 18 Februari 2017

Facebook Ladang Pahala






Udah punya akun Facebook belum? Fakta menunjukkan Facebook adalah  layanan jejaring sosial yang paling banyak digunakan menurut jumlah pengguna aktif bulanan di seluruh dunia (Studi Compete.com bulan Januari 2009). Apa yang sering Anda perbuat di dunia maya ini? Curhat pacar, pamer foto, gosip sana-sini. Taukah Anda? Facebook dapat menjadi ladang keberuntungan.
Facebook sebagai sarana berinteraksi dapat membawa manfaat bila bertujuan untuk kebaikan seperti bersilaturahim, menuntut ilmu, dan dakwah. Pengertian dakwah dapat diartikan menyeru atau mengajak kebaikan dalam rangka taat kepada Allah.  Siapa saja yang berkewajiban berdakwah? Sering kali kita mengira bahwa berdakwah hanya tugas dari ustad atau ulama, sunguh keliru perintah ini bersifat universal bagi seluruh umat islam sebagaimana firman Allah SWT dalam QS An Nahl: 125: “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” Apa fungsi berdakwah? Dapat kita simpulkan menjadi 2 garis besar yaitu untuk memperbaki iman kepada Allah SWT dan membentuk muslim yang lebih berkualitas baik dari segi akhlak, amal, dan imannya. Terbukti dengan berdakwah akan tercapai kehidupan yang mulia yaitu seluruh insan yang beriman kepada Allah SWT dengan jalan yang benar tidak sekedar islam KTP.

Sahabatku coba bayangkan,  berapa banyak pahala yang bisa kita jaringBerdakawah via Facebook? Semakin  banyak yang membaca maka semakin banyak pahala. Belum lagi keutaam dakwah yang lain sebagaimana rasul bersabda, ” Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan di lautan, mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi shahih)


Secara umum  fitur dalam Facebook terbagi  3 bentuk yaitu  tulisan, video, link, dan foto. Media untuk mempublikasikan yang dapat kita gunakan diantaranya melalui dinding sendiri, dinding teman, group, atau halaman penggemar (Fans Page). Group adalah sarana unutuk membentuk komunitas antar teman, alangkah baiknya bila kita membuat komunitas dakwah untuk saling berbagi ilmu. Halaman penggemar (fans page) fitur yang dapat dipakai menyebar luaskan dakwah keseluruh pengguna facebook, selain itu terdapat menu untuk memantau jumlah penggemar dari fitur ini. Jangan lupa agar lebih efektif  sebelum menyebarkan dakwah, terlebih dulu tandai/ tag nama teman kalian. Warning! Usahakan saat berdakwah hindari menyudutlkan unsur  SARA. Seringkali tanpa sadar dapat membawa fitnah oleh karenanya perlu hati-hati sesuaikan dengan situasi dan kondisi.



Berapa banyak orang terjerumus dosa lantaran dunia maya? Menulis status-status seperti menggunjing, Mengumbar foto aurot,  mencela sesama muslim dll.  Coba banyangkan? Bila diketahui banyak orang berapa banyak kiriman dosa yang datang. Mari sudahi semua sebelum penyesalan jadi taruhan. Buktikan  cintamu kepada Allah dan Rasul dengan mematuhi perintahnya serta meneladani  perjuangan rasul semasa  hidupnya berdakwah hingga ajaran  islam menyebar ke seluruh penjuru dunia.Marilah kawan kita berlomba-lomba dalam  kebaikan sebagaimana Allah perintahkan dalam QS. Al baqoroh 148, ” maka berlomba-lombalahlah berbuat kebajikan.” Jadikan jejaring sosial sebagai  ladang dakwah.  Semakin besar kepedulian kita untuk umat yakinlah  Allah SWT akan balas perjuangan kita dengan pahala yang lebih baik kunci meraih kebahagiaan dunia akherat. Amin (LFA)




SAJAK-SAJAK DARI DESA





Bukan waktu menggenggam perasaan ketika nyali nyaris tak berdaya. Surya terlanjur melumpuhkan jati diri dijaring kepayahan. Seminggu sejak ia pindah dari kota pahlawan. Dimas hanyut dalam dinamika waktu. Berkawan buku diary warna hijau semangka yang telah lama setia menjadi sahabat sejati percuma tak mampu membela lebih. Mengisahkan luka memuntahkan duri salah paham. Hand Phone disakunya tak lagi diotak-atik, ketidak pedulian terus membutakan kesadaran. Mata hatinya  terus mengunyah luapan penyesalan.
--------------
Rumah nomor A7 bercorak sederhana kokoh berdiri dengan batu bata dan ukiran joglo khas jawa, telah berpindah kepemilikan ketangan penghuni baru. Keadaan kental dibalut huru hara. Nomor Dimas aktif tapi tidak diangkat juga. Ibu menata meja makan dengan muka kusut, sementara Ayah meneguk kopi dengan tenang dan wibawa. Hand Phone masih belum menandakan ada balasan sms atau telepon terhubung. Sial, tak ada harapan sinyal super lemah. 
“Jangan khawatir Bu, Dimas pasti sedang duduk manis di bukit. Ayah kan tadi sudah bilang  habis shalat subuh di masjid dia ijin merekam pemandangan matahari terbit,” Kepercayaan Ayah terang menyala mencoba menyinari Ibu di penghujung gelisah.     
“Sudah jam 6 lagian Yah. Matahari sudah makin meninggi. Aku takut ada sesuatu menimpanya. Jangan sampai ia terlambat sekolah nanti sebelum jam 7,” seru Ibu seraya  memasangkan dasi Ayah.
“Hemm tunggu saja, beberapa menit lagi mungkin ia akan muncul. Dimas kan laki-laki biarlah dia belajar mandiri,”  Ayah menimpali.
“Tapi Dimas masih tergolong kecil umurnya saja baru 11 tahun. Lagian kenapa Ayah tidak menemaninya tadi? Pokoknya Ayah harus tanggung jawab bila terjadi apa-apa,” Nada Ibu perlahan meninggi dibungkus pedas ancaman.
“Iya, tapi Ibu juga jangan terlalu memanjakan Dimas seperti selama ini, tidak baik untuk masa depannya,” Ayah mengalihkan topik pembahasan seraya berpaling duduk dekat rak sepatu.

Suara semak bersautan dengan hentakan kaki. Ibu menyambut Dimas dengan wajah gemerlap. Miris, kondisi membalik segalanya. Petir menampar keras batin Ibu melihat sang buah hati dengan muka lebam.

Benang-benang kasus yang berceceran tak mudah dipintal begitu saja. Insiden yang memilukan segera dilontarakan Ibu ke hadapan kepala sekolah. Namun, tak seorangpun dikelasnya yang berani mengaku. Hari hari berlalu Kelas V Ringin rejo seolah dalam medan tempur. Setiap pagi dan menjelang pulang ketegangan di ruang kelas V menyelimuti. Bu Miska mencoba membongkar kejadian, memancing muridnya yang telah melakukan kekerasan pada Dimas agar segera minta maaf.

Untung musibah yang menimpa Dimas hanya luka ringan. Luka memar diwajahnya berselang 1 minggu telah sembuh, namun mendadak ia mogok tak mau sekolah. Rasa trauma benar-benar mengunci keceriaan dan kebahagiannya. Perubahan benar-benar menguliti kepribadinnya 180 derajat. Setiap hari dengan ketulusan, ibunya senantiasa menemani berharap Dimas kembali sebagaimana dulu. Tekanan jiwa rasa cemas yang meradang membuat Dimas hanya bisa menangis bila didesak ibu dan Ayahnya untuk menceritakan kronologi insiden serta siapa sang pelaku.
“Yah gimana nasib anak kita?” Tanya Ibu mengerutkan dahi.
            “Iya, Dimas mungkin masih butuh waktu untuk menenangkan diri,” Ayah santai menjawab seraya menatap huruf-huruf dalam koran genggamannya...............................................................
            “Apa semudah itu? Sudahlah Yah, kita penuhi aja keinginannya pindah sekolah ke desa sebelah di Golden Sky School,” ujar Ibu.
            “Jangan gegabah Bu, apa Ibu yakin menyekolahkan anak kita kesana?” Ayah balik bertanya sontak meletakan koran di atas meja
            “Ya tentu Ibu yakin, namanya juga demi kebaikan anak,” jawab Ibu mantap.
            “Hem.. Apa Ibu lupa perjuangan para pahlawan negeri kita Bu? Lebih baik anak kita menuntut ilmu dinaungan sekolah pribumi dari pada sekolah internasional dengan guru dan materi asing seperti Golden Sky School,” Ayah menerangkan.

Sore melambai datang parade kawanan bebek. Suaranya yang khas mengundang penasaran siapa saja untuk melihat. Tak malu mereka melewati perkampungan. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain sembari mencari makan yang bersembunyi dalam butir tanah. Bila beruntung mereka mendapat cacing segar bila tidak batu, biji atau benda keras lain menjadi korban. Entah tak dapat dipastikan milik siapa bebek-bebek itu. Fikiran Dimas menggantung, ia sadar bertapa hidupnya tak jauh beda dengan bebek. Ya, hanya bisa ikut-ikutan. Tanpa tau pasti arah tujuan karakteristik lingkungan serta siapa saja yang akan ia hadapi. Buku diary kembali menjadi alarm pengingatnya kejadian silam. Tak habis fikir  betapa temannya amat sensitif, satu buah perkataan melayang berubah menjadi racun berbisa. Apa aku berlebihan? Bukanakah itu hal biasa di Surabaya? Dimas menapaki getir puing penyesalan, besar harapannya ingin membeli mesin waktu Doraemon. “Ehemm,” tiba-tiba terdengar suara laki-laki berdehem. Lamunan Dimas di jendela semburat tak berupa. Ayah yang duduk disamping Dimas mencoba mencairkan suasana mengajaknya rafting esok pagi. Sebagaimna sebelumnya Ayah tahu betul kegiatan favorit anak semata wayangnya dalam bidang olah raga, tanpa persetujuan dari Dimas secara sepihak memintanya segera mempersiapkan diri.

Cuaca cerah menyapa hangat penduduk Desa Bayem, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Akhirnya, hal yang ditunggu segera tiba. Arung jeram wisata unggulan desa dengan sensasi yang sepadan antusias dihadapi keluarga Dimas. Medan bervariasi cocok bagi pemula maupun yang profesional melatih fisik dan mental. Memicu hormon adrenalin meredam rasa stres ditambah hiasan panorama yang menjernihkan hati dam fikiran dikelilingi perbukitan dengan hamparan lautan sawah membentang kekuningan seolah telah siap dipanen. Maha besar Allah menciptakan bumi nusantara yang kaya sumber daya alam.

Tok..tok..tok dari ketukan dahan pintu kenyataan mulai mengungkap indah pelangi.  Bu Miska wali kelas V SDN Ringin rejo kaca matanya memantulkan gejolak misteri. Perbincangan 4 mata dengan Dimas mengurai kabar sejuk. Bu Miska menumpahkan banyak hal termasuk kerinduan sekolah. Hand Phone beliau menjadi bukti bisu  berupa video persembahan teman-teman kelas V sebongkah ungkapan rindu sekaligus permohonan maaf atas kesalahan pahaman yang terjadi.

Pagi berkilau menyongsong hari Senin, seragam putih merah membekukan semangat dari raga Dimas yang kembali bersekolah. Tertimpa duren itulah gambaran kebahagiaan yang dirasa Ibu dan Ayah. Keceriaan tumbuh bersemi, lama tak jumpa kini teman-temannya kembail hangat merangkul. Usai upacara bendera, Bu Miska seorang guru muda nan energik mengajak murid-muridnya keluar sekolah. Mereka berjalan beriringan mendaki menuruni bukit menyusuri jalan menyaksikan indah panorama merelaksasi setiap ketegangan batin dan urat nadi. Kesejukan ramah menyertai para petani yang nampak akrab saling membahu di petak-petak sawah. Syahdu kelembutan aliran sungai menyatu dengan nyanyi burung di angkasa. Entah Dimas merasakan ketenangan tiada tara tidak seperti rumahnya dulu yang setiap detik dipenuhi bising kendaraan lalu lalang.

Candi Sapto menjadi tujuan rombongan murid kelas V. Candi yang tak sering diliput dalam buku-buku atau televisi. Tapi fakta menunjukkan desa ini menyimpan peninggalan sejarah meskipun terbatasnya prasasti yang menunjang. Sebagai pengantar Ibu guru menerangkan materi bab baru yaitu kerajaan Indonesia. Sekilas mencuplik poin hikmah, banyak inspirasi dan teladan dapat digali. Dibalik kontribusi sejarah Indonesia tak salah negara ini memang kaya baik dari sumber daya alam, suku, etnis, dan budaya. Sudah sepatutnya, tugas kita tonggak penerus bangsa untuk melestarikan dan menghargai aneka ragam budaya yang ada.  

Waktu terus menggelinding dibalik jilbab yang menutup kepala Bu Guru seolah menyembunyikan seyum bahagia. Sorak sorai dalam permainan tradisional anak-anak menularkan kenangan Bu Miska. Pengalaman 20 tahun lalu semakin dekat menghampiri alam bawah sadar Bu Miska. Tiba-tiba melintas bisikan dalam sanubari Bu Guru, bangsa yang luhur ialah yang mampu menjunjung kebudayaannya. (LFA)

PENJAHIT SEPATU






Aku masih duduk bak sebuah batu, terdiam sibuk menyumpel dua lubang hidung dengan sapu tangan yang kebetulan bertengger di saku. Iya, tak beda jauh layaknya pengunjung rumah sakit yang menutup lubang hidung alasan antisipasi ketularan virus. Bahkan tiga puluh menit sejak aku menjadi lumut di tempat menjijikan ini. Ditengah galau yang menghantui, aku yakin semua orang pasti merasa ingin mengakhiri. Cukup untuk pertama dan terakhir aku disini keluh rengek batin. Memang sial nasib, mendatangi tempat penjahitan sepatu dan payung ditawan titah Bos. Hanya saja kondisi disekeliling benar-benar membuat ingin berontak. Hujan deras bagi air terjun yang mengerang dibalik kondisi yang semakin buruk rupa menodai mata, pemandangan sungai kotor tak ramah, bau sampah yang menari-nari dibawa arus air. Betapa tidak lingkungan ini mencekik tengggorkanku membuatku ingin muntah. Tak kuat ingin rasa segera mengakhiri, berlari menghirup segarnya udara di luar. Namun karena kewajiban menggantung, suka dan duka terpaksa aku terjang.  Sesekali menengok jam tangan pinjaman berharap setiap detik jarum melaju lebih cepat.
            "Dek, kira-kira masih berapa menit  lagi sepatunya selesai dijahit?" Tanyaku  pada seorang anak kecil penjahit sepatu.
            "Emmm... mungkin 1  jam lagi baru selesai Mbak,"  tukasnya dengan ekspresi hampa tangannya tetap asyik menusukkan jarum di sepatu pesanan orang.
            “Lho katanya tadi 30 menit sudah jadi. Aku sudah nunggu 30 menit, berarti sudah jadi dong,” tanyaku dengan nada meninggi tidak percaya.
            “Iya, sebenarnya biasanya segitu. Tapi Mbak tau sendiri sekarang cuacanya telah berubah. Coba lihat ke atas, matahari tidak bersahabat, ” seru penjahit menggampangkan.
Aku menatap ke langit mengernyit dahi, menatap awan gelap kelabu hujan gerimis bergelimpang dari langit aku rasakan menghujam harapanku.
“Sabar Mbak, sepatu yang Mbak bawa masih di lem. Kalau sudah kering baru bisa dijahit,” ujarnya  kembali menerangkan.
            "Haduh kok gak bilang dari tadi sih! Aku udah gak betah disini. Apa gak bisa lebih cepat?" Aku mengadu sembari bangkit dari posisi dudukku.
......
            “Ya Tuhan, masalahnya itu sepatu majikanku. Kalau sepatunya udah selesai dijahit baru aku diijinkan pulang.  Kalau tahu gini udah dari tadi mending keluar, main entah ke taman, pasar, atau tempat asyik lainnya  pas cuaca masih cerah. Sudah sekarang hujan makin deras, pokoknya 1 jam lagi harus udah selesai lho Dek!” Aku terus  mengomel di rel emosi yang asapanya terus berkibar-kibar.

Ucapanku sama sekali tidak digubris. Apa anak ini gak pernah  di ajari tata krama oleh orang tuanya? Udah bikin sakit hati sekarang diam tak merespon. Aku merasa mengobrol  dengan makhluk lain. Huh.. tingkahnya nyebelin banget aku terus menggerutu. Terpaksa aku kembali duduk menyerah kalah, terjebak hujan deras berdamping rangkain kilat halilintar. Ouh rasanya raga ini menyusut tak berdaya.

Sebersit anugrah terhempas hujan tampak memahami, semakin jinak menjadi iringan gerimis  hingga mereda. Krucuk...krucuk... astaga  kini perutku yang berbunyi meniru aliran air.
            “Mbak gak lapar?  Silahkan ini ada kue kukus,” sembari menyodorkan kotak kecil berwarna hijau tosca.
 Aku tersentak, dalam fikirku penuh ragu. Apa ia bisa membaca fikiranku?
            “Mbak gak usah malu, silahkan ambil,” terus saja ia merayu tak menyerah.
            “Emm, makasih,” tanganku melambai, sebab gengsi aku memilih menolak aku yakin ia pura-pura baik.

****

             “Ini mbak sepatunya sudah selesai.”
            “Oh iya berapa Dek? Untung ya tepat waktu,” ujarku bonus menyindir senyum tipis.
             “Cukup 5.000 aja mbak,” jawabnya santai tak peduli seraya mengusap peluh di dahi.

Wusshh... aku beranjak pulang dengan nafas lega. Tik..tik... beberapa langkah aku berjalan tetesan air merayap membasahi pipi. Aku percepat langkah berharap air dari angkasa tidak berlarut  ganas. Persis saat ada suara langkah kaki berlari dan tabir membatasiku dengan hujan.
            “Mbak,” suara mengalir lewati gendang telingaku.
Aku menoleh kebelakang.  Mataku tak menjangkau siapapun kecuali payung yang melayang. Aku terbelalak dikala menatap ke bawah, sigap bediri seorang berambut ikal setinggi pinggangku.
            “Mbak, hujannya semakin deras, pakai payung ini saja ya,” ia berseru kencang mengalahkan sorak sorai hujan.
            “Oh iya, terima kasih. Tapi untuk apa? Sepatu bos saya sudah di dalam tas plastik, jadi gak akan basah karena hujan kok.”
            “Iya gak apa-apa. Dari pada Mbaknya nanti sampai rumah basah kuyup. Rumah saya dekat sini kok mbak. ”
            “Ouh baiklah kalau begitu, terimakasih Dek. Besok saya kembalikan lagi ya,” mulutku dibungkam kelu, akhirnya menerima dengan hati haru.

Aku berpaling kembali mengembalikan payung. Namun tak aku jumpai rambut ikal anak penjahit sepatu dan payung. Hatiku panas dirundung resah. Aku mendatangi pria bertopi hitam sibuk mengelap gerobaknya bertulis “Jenang Sehat”.
            “Pak, anak kecil yang menjahitkan sepatu dan payung disini kemana ya?”
            “Ouh si Ahmad, dia tadi pulang buru-buru. Katanya sih mau nunggguin ibunya yang opname di rumah sakit.”
            “Apa di rumah sakit? Rumah sakit mana ya Pak? Maaf saya mau mengembalikan payungnya.”
            “Di Rumah Sakit Graha Saudara dekat alun-alun itu lho Mbak, kasian banget kata Ahmad ibunya sedang kritis,” ujar beliau terbuka.
            “Ouh, memang Ibunya sakit apa Pak?” Tanyaku penasaran.
            “Kata Ahmad Ibunya kena kanker paru-paru, sebenarnya dokter udah nganjurin operasi. Tapi yah karena uang sulit dicari,  anaknya bingung cari dana.”
            “Emmmm... Terima kasih atas infonya Pak,” aku bergegas pergi dengan batin  mengganjal merajut mata berbuih embun.

Rumah mewah telah menantiku tanpa fikir panjang segera kudatangi markas. Aku mengiris aneka bumbu dengan hati pilu. Terbayang almarhum Kak Mirda, saudara kembarku yang terindikasi kanker paru-paru lantaran over dosis terkontaminasi asap rokok di kantor. Nasibku tak ubahnya tercermin kepada Ahmad. Aku berikrar sore nanti hendak menjenguk Ibunya.
            “Tumben Mir, jam segini dapur udah ribet. Mau kemana hayo?  Biasanya kan  jam segini masih molor,” Kata Nyonya Bos nyelonong masuk.
            “Emmm iya Nya, kebetulan nanti saya mau ke rumah sakit jenguk ibu temen saya,” jawabku menunduk fokus mencacah daging.
            “Matamu agak lebam, kamu menangis? Emang Ibunya sakit apa?” Tanyanya sambil asyik menyicipi kentang goreng yang baru matang.
            “Emmm... iya, sakit kanker paru-paru Nya, katanya disarankan dokter untuk operasi. Cuma kasian banget, teman saya tidak punya cukup uang,” ujarku masih terisak.
            “Operasi itu emang mahal bisa berjuta juta. Yah mangkannya kita harus menerapkan  pola hidup sehat. Makan-makanan yang sehat serta bergizi. Bukan begitu kan Mirah?” Ungkap Nyonya seraya mengambil apel merah fuji yang tergelatak di piring.
            “Iya, betul sekali. Oh ya Nya, berubung tabungan saya hanya Rp 100.000,00. Apa Nyonya tak ingin ikut  membantu?” Ujarku berharap Nyonya moodnya sedang baik dan  tergerak hatinya berbagi meski secuil harta.
            “Hah... uhuk...uhuk,” spontan Nyonya tersedak apel, capat-cepat aku ambilkan segelas air putih.
            “Em...gimana ya? Uang saya yang cash tidak ada. Uang di ATM ada sih tapi saya gunakan besok reuni ke luar kota. Andai kamu bilang jauh hari Mir, masih bisa aku bantu,” ujar Nyonya sok care.
            “Emmm... baiklah. Maaf Nya, kalau Bos pulang kerja kira-kira kapan?” Tanyaku menggali jalan lain.
            “Tadi berangkat kerja sih katanya  pulang  baru besok. Nanti mau rapat mbahas proyek besar. Yah semoga aja lancar ya nanti,” hobi pamer Nyonya mulai kambuh.
            “ Iya Nya, Amin...Amin,” Aku iyakan aja deh biar puas tak guna aku  mencerca.

***
Dibalik saksi gelincir mentari. Sekali lagi aku meyakinkan amplop aman di saku. Aku maju menghampiri gerbang rumah sakit mataku mengintai setiap langkah yang lalu lalang. Wajahku semakin mekar tampak Ahmad dari pintu. Aku segera berlari menghampiri.
            “Dek,apa kabar?  Ini aku kembaikan payungnya,” ujarku  menghampiri seraya jongkok di lantai menyamakan tinggi badan kami  menjulurkan payungnya.
            “Ouh iya baik Mbak,  terima kasih,” tampangnya masih seperti dulu awal bertemu masam, datar, dan kaku.
            “Lho mau kemana? Aku mau jenguk Ibunya Adik,” aku menghentikan langkah kakinya yang terburu-buru pergi.
            “Mbaknya memang ada perlu apa dengan Ibu saya?” Langkahnya terhenti, malah  balik bertanya.
            “Ya, aku kan pingin jenguk. Masak gak boleh?” Ujarku membela diri.
            “Ya boleh aja sih, tapi ibuku masih tidur,” jawabnya dekil.
            “Emm, ya udah gak apa-apa kalau gitu tolong terima ini ya Dek,” seruku memberikan amplop putih agak lusuh.
***

Inilah momen yang aku tunggu. Untung saja bujuk rayuku mempan membungkus niat Nyonya membeli payung baru. Bermodal payung rusak yang tak lagi selaras antara juantaian benang dan sisi kawat. Dengan riang semangat aku kembali menghampiri stand jasa penjahitan sepatu dan payung. Surya pagi seperti biasa masih kokoh mengawasi aktivitas kami, tapi tak aku jumpai bocah penjahit sepatu dan payung. Setelah aku mendapat kabar dari  penjual jenang. Tiap bait katanya perih tembus mematahkan mimpiku. Betapa sesak dadaku mendengar Ahmad telah lama tidak bekerja. Tutur penjual jenang terakhir kali dijumpainya pekan lalu dikala sore menjelma di panti asuhan. Aku kian mengungkit bingkai nostalgia 5 tahun silam, mengorek kembali tiimbunan pedih kehilangan orang yang  disayang .

Energi besar menopang langkahku. Entah apa motif yang mengukir ingin sekali aku berjumpa Ahmad walau semenit saja. Berjarak beberapa langkah dekat panti jelas terdengar kegaduhan anak-anak. Sesampainya aku menatap girang  gerumbulan anak kecil bermain riang bersama di halaman. Namun hatiku menciut berulang kali mencermati sama sekali tak menjumpai anak kecil berambut ikal. 
            “Mbak,” tiba-tiba  aku merasakan dekapan seseorang  dari belakang.
            “Yey... Asyik Mbak main kesini,” ia melepaskan pelukannya dan berjalan gesit di hadapanku dengan senyum mengambang bahkan terlihat jajaran giginya.
            “Ouh iya sama-sama Dek, aku turut berbela sungkawa atas yang ada. Moga Allah memberi kekuatan dan ganjaran yang melimpah ya,” ujarku sembari menatapnya haru.
            “Hah, Mbak ngomong apa sih? Aku gak ngerti. Mbak mau ketemu Ibu ya? Ibu baru saja pergi mengantar roti pesanan orang,” serunya dengan wajah keheranan.
          “Hah yang bener? Ouh enggak, aku cuma pingin ketemu Adik buat jahitin payung,” jawabku amat terkejut segera mengalihkan pembicaraan.
            “Gak mau ah mbak, kata Ibu aku harus fokus sekolah gak boleh kerja. Ouh ya Mbak terimakasih banyak ya, karena bantuan uang dari mbak kemarin, Ibu saya sekarang sudah sembuh usai operasi,” ujarnya menjelaskan membuatku sedikit tercengang atas perubahannya mendadak 180 derajat.
            “Emm... Alhamdulillah kalau gitu. Sebenernya itu bukan dari mbak aja Dek. Ya seperti adiknya tau aku sebagai pembantu dengan teman-teman, eh maksutnya dengan para pembantu lain. Mereka juga turut simpati akhirnya kami mengumpulkan uang bersama,” aku berterus terang.
            “Ouh gitu aku gak nyangka masih ada orang yang peduli dengan kami,” perkataan Ahmad merambat menggetarkan kalbuku.
            “Iya, aku sadar Dek. Almarhum saudaraku perempuanku memberiku mutiara kenangan bahwa kebahagiaan datang dengan menjalin persaudaraan. Saling berbagi dan membantu satu sama lain. Persaudaraan dengan siapa saja, tak sebatas sanak keluarga atau sedarah turunan.”
            “Iya betul banget. Oh ya Mbak, sebagai ungkapan terima kasih tolong terima kue ceria ini” ujarnya sembari mengeluarkan sebungkus kue kukus kebiasaan baiknya masih saja awet seperti dulu.
            “Nyam.... nyam iya enak banget. Pasti Ibumu ya yang buat? Eh ngomong-ngomong lagi ngapain Dek disini?” Tanyaku menikmati roti kukus keju  yang masih hangat.
            “Hehehe Mbak tau aja. Yah.. seperti biasa setiap jumat sore Ibu memintaku membagi kue-kue ini ke panti,” jawabnya dengan polos.
            “Wuw asyik  berbagi,  jempol deh buat Ahmad?” ujarku takjub.
            “Lho Mbak tau namaku? Dari siapa?” tanyanya baru menyadari.
            “Ya tau dong, emmm rahasia,” responku senyum kecut.
            “.........”
           
 (LFA)


 

Blogger news

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate by Google ( UBLO 7 )

Blogroll

About

Flag Counter