Rabu, 22 Mei 2013

MASJID QISHOS JEDAH TAK SELAMANYA MENGERIKAN.
















Sebagai negara dengan umat muslim terbesar di dunia, dapat dimaklumi kalau jemaah haji dari Indonesia dengan jumlah sekitar 205 ribu orang merupakan jemaah haji terbanyak. Dengan demikian banyak masyarakat Indonesia yang sudah berkunjung ke Saudi Arabia, dalam rangka ibadah Haji, Umroh maupun tujuan lain.



Berbagai masjid sudah sangat dikenal oleh warga negara Indonesia baik yang telah berkunjung langsung, atau mendapatkan informasi dari berbagai media cetak, televisi dan sebagainya. Beberapa masjid di Arab Saudi yang sangat dikenal masyarakat Indonesia antara lain: Masjidil Haram, masjid Kucing, masjid Jin di Mekkah; masjid Nabawi, masjid Quba, masjid Qiblatain di Madinah. Sedangkan di Jeddah masjid yang sering di kunjungi oleh jemaah Haji maupun Umroh dari Indonesia adalah masjid Qisosh yang terletak di pusat kota dan masjid terapung di laut Merah.

Masjid Qisosh sangat unik dan menarik karena masjid tersebut merupakan salah satu tempat pelaksanaan hukum pemotongan sebagaian anggota tubuh atau pemenggalan yang dilaksanakan di depan umum. Ditambah dengan lokasi yang sangat strategis karena terletak di tepi danau yang indah, disamping taman kota yang asri, serta dekat dengan lokasi bangunan-bangunan kuno yang dilestarikan, serta dekat pula dengan pusat perbelanjaan Balad.

Pendopo tempat eksekusi di halaman Masjid Qisosh.

Sesuai dengan sebutannya, di halaman masjid Qisosh secara periodik dilaksanakan eksekusi terhadap narapidana berdasarkan hukum Islam yang diterapkan secara ketat di Arab Saudi. Eksekusi biasanya dilaksanakan pada hari Jum’at.

Pada tahun 2007 jumlah hukuman pancung kepala di seluruh Saudi Arabia tercatat 153 orang. Dengan perasaan duka dan haru, terpaksa kita juga mendengar berita yang memilukan bahwa pada awal tahun 2008 ini eksekusi pemancungan yang kedua di Arab Saudi dijalanani oleh Yanti seorang TKW dari Indonesia di Propinsi yang terletak di barat daya kota Assir.

Kalau di Indonesia hukuman mati dilaksanakan di tempat yang sangat dirahasiakan dan sangat tertutup untuk umum. Sebaliknya di Arab Saudi justru dilaksanakan di tempat terbuka dan dapat disaksikan oleh khalayak ramai. Bagi kita bangsa Indonesia mungkin masih ngeri menyaksikan hukuman Qisosh. Namun bagi masyarakat disekitar masjid Qisosh Jeddah, hal tersebut merupakan pemandangan biasa. Tentu saja maksud dari pelaksanaan hukuman di tempat terbuka tersebut antara lain agar masyarakat takut berbuat jahat dan pelaku kejahatan jera mengulangi kesalahannya. Dalam proses pelaksanaan hukum pemotongan anggota tubuh di Arab Saudi, pelaksanaannya tetap memperhatikan aspek peri kemanusiaan. Setelah Narapidana dieksekusi sesuai hasil keputusan sidang pengadilan, misal pemotongan lengan, terpidana langsung diangkut dengan ambulan ke Rumah Sakit dan dirawat sampai 100% sembuh.

“No fotografi” dengan gambar kamera di coret merah dipasang dibeberapa tempat disekitar pendopo pelaksanaan eksekusi, tentu saja larangan tersebut dimaksudkan agar saat pelaksanaan hukuman pemenggalan sebagaian anggota tubuh terpidana, tidak ada yang mengambil foto. Diluar jadwal tersebut asal tidak ada askar (polisi Arab Saudi) yang melihat, apabila kita berani bisa dicoba untuk mengambil foto, tentu saja resiko ditanggung sendiri. Namun saat ada pelaksanaan eksekusi qisosh sama sekali jangan coba-coba memberanikan diri mengambil foto kalau masih menginginkan lengan tangan tetap utuh.

Lokasi Masjid Qisosh ini sangat strategis, lebih kurang 100m disebelah utara masjid, terdapat hotel Al Azhar berbintang empat. Hotel tersebut merupakan salah satu hotel yang ditempati oleh jemaah haji reguler Indonesia saat transit di Jeddah sebelum terbang kembali ke Indonesia. Tentu saja interior kamar tidur mewah tersebut diubah, dijejali dengan tempat tidur tambahan semaksimal mungkin. Sehingga 1 kamar dengan double bed yang mestinya untuk 2 orang saja, dipergunakan untuk untuk tidur 7-8 orang. Sebagaimana di Penginapan (maktab) Mekkah dan Madinah di halaman hotel dan halaman masjid Qisosh selalu kita jumpai pedagang makanan dan kue khas Indonesia yang menggelar dagangan ala kaki lima. Mulai dari krupuk, kacang hijau, tahu, tempe, sayur lodeh, nasi kuning, nasi goreng, nasi gurih, sate ayam, sate kambing dsb. Rata rata makanan dan jajanan khas Indonesia per bungkus/ per potong dijual seharga satu saudi real (1 SR). Kalau bosan makanan dari hotel atau maktab kita bisa langsung beli masakan tradisional Indonesia sesuai selera kita di sekitar hotel atau maktab..

Mengamati kawasan sekitar masjid Qisosh dikala tidak pada saat eksekusi. Kita akan mendapat kesan suatu kawasan yang sangat indah dan menarik. Karena disekitar lahan eksekusi tersebut terdapat danau yang sangat indah serta taman kota yang cantik menarik. Bahkan didekat masjid Qisosh tersebut terletak lokasi kota lama yang sangat indah dan pusat perbelanjaan Balad yang sangat diminati oleh wisatawan yang datang di kota Jeddah antara lain dari Indonesia yang menunaikan haji dan umroh di Mekkah dan Medinah sekaligus berwisata singkat di Jeddah saat menunggu kepulangan ke Tanah air dari “Airport King Abdul Azis” di Jeddah. Meskipun Bandara tersebut bertaraf internasional ratusan jamaah haji yang menunggu keberangkatan dipersilakan duduk santai “lesehan” diatas lantai. Suasana tersebut sangat kontras apabila di bandingkan dengan ruang tunggu di bandara Internasional di Frankfurt Jerman ataupun di Changi Singapura.

Lansekap sekitar masjid Kisos.

Taman Kota

Berkat kemajuan teknologi serta dana yang memadai, lansekap disekitar masjid Qisosh tidak lagi berupa gunung batu dan padang pasir khas Arab Saudi. Namun nampak bagai “taman firdaus” dengan berbagai pohon, tanaman bunga yang hijau segar dilengkapi air mancur yang indah mempesona. Penanaman pohon menerapkan teknologi canggih dengan beaya besar. Areal yang direncanakan untuk taman harus digali dan diisi dengan tanah yang didatangkan dari negara lain, sehingga sistem pelaksanaannya menyerupai pembuatan pot raksaksa. Mengingat curah hujan yang sangat kecil sesuai iklim tropis kering, prasarana irigasi untuk tamanpun sangat canggih, jaringan air dilengkapi keran untuk memancarkan air yang dapat menyiram setiap jengkal areal taman. Air untuk menyiram tanaman berasal dari air laut yang diproses menjadi air tawar. Jenis tanaman eksotis yang terdapat dalam taman hasil teknologi canggih tersebut, antara lain tanaman yang umumnya hidup didaerah tropis lembab misal. Kamboja (Plumeria acuminata), pohon kelapa (Cocos nucifera ), bunga kana (Canna indica), tapak doro (Catharantus roseus) dsb.

Taman di Jeddah pada umumnya dilengkapi dengan patung atau “sculpture”, namun sesuai dengan aturan yang berlaku, patung berwujud makhluk hidup baik binatang maupun manusia tidak diperkenankan. Taman di seberang jalan Masjid Qisosh juga dilengkapi dengan patung komposisi 3 kubah masjid yang nampak artistik dan berfungsi sebagai landmark atau tetenger lingkungan di sebelah barat masjid terdapat patung cangkang kerang laut yang terletak di tepi danau. Patung patung tersebut sangat jelas dipandang dari pendopo pelaksanaan eksekusi qisosh karena jaraknya hanya sekitar 50 m.

Salah satu patung di kota pelabuhan Jeddah yang paling terkenal di kalangan jemaah haji Indonesia adalah patung sepeda raksaksa yang tingginya lebih kurang 10 m. patung atau “sculpture” sepeda tersebut diperkenalkan kepada para jemaah haji yang berkeliling kota dalam rangka “city tour” sebagai “sepeda nabi Adam” tentu saja istilah tersebut hanya sebagai “plesetan” atau “joke”. Wisata keliling kota Jeddah menggunakan bis Mercedes baru dilengkapi dengan AC sudah termasuk paket ONH (Ongkos Naik Haji) sehingga sayang kalau dilewatkan. Obyek yang dikunjungi antara lain makam siti Hawa, laut Merah, Masjid terapung, sepanjang perjalanan kita bisa melihat berbagai taman yang indah dilengkapi dengan patung atau “sculpture” yang sangat atraktif dan dinamis. Namun bagi jamaah yang sudah sangat lelah setelah menunaikan ibadah haji reguler selama hampir 40 hari di Mekkah dan Madinah, lebih memilih istirahat di hotel berbintang empat dengan AC yang nyaman dan sejuk daripada mengikuti “city tour- gratis” tersebut.

Danau disamping masjid Qisosh

Keindahan suasana disekitar masjid Qisosh semakin lengkap karena di sebelah barat masjid Qisosh dan pendopo tempat eksekusi pemenggalan anggauta tubuh, terhampar danau yang sangat indah dengan warna biru lazuardi yang bening serta efek pantulan cahaya matahari yang keperak perakan. Keindahan lingkungan masjid Qisosh sangat sesuai bagi penyair yang mencari inspirasi untuk menciptakan puisi. Tepat dihalaman masjid disamping danau tersebut, ditawarkan pula kepada wisatawan yang datang kesempatan untuk naik onta yang dihias dengan sangat artistik sekaligus difoto dengan kamera langsung jadi dengan beaya 10 saudi Real. Apabila ongkos disepakati kita dapat pula naik onta mengelilingi danau, karena luasnya danau tentu saja ongkos akan sangat mahal sekali. Perahu dayung juga tersedia untuk menikmati keindahan panorama sekeliling danau. Siang hari temperatur udara di Jeddah cukup panas. Namun dengan adanya danau yang luas, maka secara psikologis suasana lingkungan terasa sejuk, nyaman dan segar.

Komposisi antara keanggunan masjid Qisosh, biru lazuardi air danau dan hijau jamrud taman kota, saling bersinergi secara positif membentuk fenomena lingkungan yang sangat menarik dan menawan hati. Sehingga fungsi pendopo di halaman masjid Qisosh yang pada hari jumat sering dipergunakan untuk eksekusi pemenggalan, terasa jauh dari kesan seram atau angker. Apalagi di sekitar pendopo banyak mukimin warga negara Indonesia yang sebagaian besar suku Madura, berjualan makanan nasi pecel, gado-gado, sate ayam yang langsung dibakar di tempat. karena masjid Qisosh merupakan salah satu obyek yang banyak dikunjungi oleh jemaah Haji Indonesia yang singgah di Jeddah..


ARTIKEL PENDUKUNG

Kota lama dan pusat perbelanjaan didekat masjid Qisosh.

Kota lama:

Setelah melewati taman kota yang indah disebelah selatan masjid Qisosh, kita langsung sampai ke gerbang kota lama Jeddah. Jarak gerbang kota lama dengan masjid Qisosh hanya sekitar 150m. Bangunan bangunan kuno yang sangat artistik dengan corak arsitektur tradisional Arab Saudi dan kehidupan sehari hari dari penghuninya dapat kita nikmati. Bangunan hunian dengan arsitektur tradisional Arab dipenuhi dengan ornamen yang sangat khas dan unik. Pada beberapa bangunan bertingkat yang terbuat dari tembok batu pada tiap terasnya terdapat elemen bangunan dari kayu yang menjorok keluar. Elemen ini dipergunakan untuk disain teras tiap kamar di hotel Hilton di depan masjidil Haram Makkah al Mukarromah yang direncanakan dengan konsep arsitektur “postmodern” atau pasca modern. Dapat pula kita amati bagaimana warga kota lama berkumpul di kios kopi dan ada pula yang menghisap rokok khas saudi Arabia dengan menggunakan selang panjang. Alat penghisap asap yang lazim disebut “ Shisha” ini dapat pula kita jumpai di cafĂ© remaja di kawasan simpang lima kota Semarang.

Sebagaimana layaknya fenomena di beberapa kota lama di Indonesia. Bangunan dan elemen lingkungan sebagai artefak budaya nampak antik dalam arti memiliki nilai sejarah yang tinggi, namun secara fisik beberapa bangunan nampak memprihatinkan dan memerlukan rehabilitasi atau renovasi karena usia yang sudah uzur.

Balad

Dari masjid Qisosh ke arah selatan setelah melewati kawasan kota tua, kita langsung sampai di Balad kawasan perbelanjaan semacam Blok M di Jakarta. Jarak pusat perbelanjaan Balad dari masjid Qisosh hanya sekitar 500m saja.

Untuk menikmati lingkungan masjid Qisosh termasuk daerah bangunan kuno, sampai Balad sebaiknya jalan kaki saja karena sensasi yang didapatkan akan lebih terasa berkesan, karena kita dapat menyaksikan serta berpose disamping jam raksaksa di salah satu taman dan benteng pertahanan kuno lengkap dengan meriam meriamnya.

Kawasan perdagangan Balad merupakan salah satu tujuan utama dari warga negara Indonesia yang mengunjungi Jeddah. Beberapa toko dan rumah makan di Balad memperkerjakan mukimin yaitu warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di Arab Saudi, sehingga masyarakat Indonesia merasa nyaman berbelanja berbagai keperluan terutama oleh-oleh atau buah tangan tanpa terkendala oleh bahasa. Sebagaimana di Mekkah dan Madinah di Jeddahpun banyak pedagang bangsa Arab yang fasih mengucapkan beberapa kalimat bahasa Indonesia, misal: “Mari-mari lihat dulu, bagus bagus, murah-murah”, dan sebagainya. Makanan khas Indonesia juga mudah diperoleh di Balad.

Apabila di Mekkah dan Madinah semua wanita yang tampil di tempat umum pasti memakai penutup kepala atau jilbab, bahkan wanita banyak yang memakai cadar. Sesekali pada pusat perbelanjaan Balad di Jeddah kita bisa melihat wanita Arab yang cantik dan manis, memakai gaun panjang dengan rambut terurai tanpa penutup rambut dan penutup wajah.

Namun iklan, poster, baliho tetap tidak ada yang menampilkan gambar wanita kalau toh ada gambar manusia yang ditampilkan. Maka yang dipilih sebagai model adalah lelaki Arab dengan pakaian khas Arab. Gerbang masuk lingkungan Balad juga dilengkapi dengan poster raksaksa yang menampilkan 3 wajah lelaki Arab dengan pakaian khas mereka.

Kawasan perdagangan Balad memang sangat dikenal bagi sebagaian jemaah Haji atau Umroh dari Indonesia. Dikalangan pedagang di Mekkah, Madinah dan Jeddah jemaah dari Indonesia memang dikenal senang dan banyak berbelanja. Hingga belanja di Balad merupakan kesempatan terakhir untuk menghabiskan sisa uang “Saudi Real” yang tersisa sebelum terbang kembali ke Tanah air dari Bandar Udara King Abdul Azis.

sumber http://gagoek-hardiman.blogspot.com/2008/07/artikel-utama-masjid-qishos-jedah-tak.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate by Google ( UBLO 7 )

Blogroll

About

Flag Counter